Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

PERTAHANAN TANAMAN TERHADAP SERANGAN PATOGEN

Terdapat 2 cara pertahanan tanaman baik yang terjadi sebelum

terjadi atau terinduksi oleh serangan patogen

1.  Pertahanan struktural : menghambat masuknya atau    penyebaran patogen dalam jaringan tanaman
2.  Reaksi biokimia  : toksin atau senyawa penghambat   pertumbuhan patogen
Kombinasi sistem pertahanan tersebut
tergantung:
  1. Spesies tanaman
  2. Umur tanaman
  3. Organ atau jaringan tanaman yang terserang
  4. Keadaan nutrisi / hara tanaman
  5. Keadaan cuaca

pertahanan struktural:1.  Reaksi pertahanan sitoplasmik

a.  Sitoplasma tanaman mengelilingi kumpulan hifa

b.  Inti sel tanaman menegang dan pecah

c.  Jika sukes, sitoplasma menjadi granul dan padat,  struktur atau   partikel terbentuk, patogen terpisah, dan invasi terhenti

2.  Struktur pertahanan dinding sel  (keefektifan terbatas)

a.  Lapisan luar dinding sel membengkak, memproduksi bahan   yang mengelilingi dan memerangkap sel bakteri serta mencegah   perkembang biakan

b.  Dinding sel menebal, memproduksi bahan selulosa yang   tercampur dengan senyawa fenolat

c.  Terbentuknya papilae yang terdiri dari kalose (senyawa mirip   selulosa) terletak di dalam dinding sel

Mekanisme Patogenisitas

Patogenisitas : kemampuan patogen untuk menimbulkan penyakit

Permukaan tanaman yang langsung kontak dengan lingkungannya :

1.Terdiri dari selulosa, seperti pada sel epidermis akar dan ruang antar sel

parenkim daun, atau

2.Terdiri dari kutikula yang menutupi dinding sel epidermis, seperti yang terdapat

pada bagian tanaman di atas permukaan tanah

3.Sering juga terdapat lapisan tambahan yang mengandung lilin yang terletak

di bagian luar kutikula

Patogen dapat menyerang tanaman, karena dapat memanfaatkan senyawa- senyawa yang dibentuk oleh tanaman inangnya, dan beberapa patogen tergantung pada senyawa tersebut untuk bertahan hidup.

Untuk dapat menyebabkan penyakit :

1.Patogen harus mengenali / menemukan inangnya
2.Patogen harus dapat menembus barier (penghalang) di luar sel tanaman
3.Patogen harus mampu bergerak lebih lanjut (invasi) di dalam jaringan
4.Patogen harus mampu memanfaatkan komponen-komponen dalam inang

(nutrisi) untuk tumbuh dan reproduksi

5.  Dapat mengatasi (menekan) reaksi pertahanan inang

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR

“ PERCOBAAN KISARAN INANG”

Oleh :

busyairi

A34080o8

Dosen Pengajar :

Dr. Ir. Nina Maryana, Msc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan gejala kerusakan yang diakibatkan oleh serangan hama, disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya dilihat dari tipe alat mulut dan cara hidup serangga tersebut. Ada empat macam tipe alat mulut pada serangga yaitu menggigit-mengunyah, meraut-menghisap, menusuk-menghisap dan mengait-menghisap. Dari segi pengelompokan hama, terdapat dua jenis pengelompokan hama yaitu hama langsung dan hama tidak langsung. Hal ini dilihat dari bagian tanaman yang diserang oleh hama tersebut. Pengertian dari hama langsung adalah hama yang menyerang bagian tanaman yang langsung kita konsumsi atau kita pasarkan, sedangkan hama tidak langsung adalah hama yang menyerang bagian tanaman yang tidak langsung kita konsumsi atau kita pasarkan.

Umumnya serangga mempunyai kisaran inang tertentu. Kisaran tumbuhan inang merupakan ragam jenis tumbuhan inang dari suatu spesies serangga fitofag. Adapun pengertian dari serangga fitofag adalah serangga yang memakan tumbuhan untuk kelangsungan hidupnya. Pengelompokan serangga fitofag berdasarkan kisaran tumbuhan inang terdiri dari tiga bagian yaitu monofag, oligofag dan polifag. Monofag adalah jenis hewan yang hidup dan makannya hanya pada satu atau beberapa spesies tumbuhan dan famili tertentu, oligofag adalah hewan yang hidup dan makannya pada sejumlah spesies tumbuhan dari satu famili, sedangkan polifag merupakan kelompok hewan yang hidup dan makan pada berbagai jenis atau banyak spesies tumbuhan dan dari berbagai famili.

1.2 Tujuan

Percobaan dalam praktikum ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kisaran persentasi inang yang dimakan oleh serangga (larvanya) dan mengetahui perilaku makan larva tersebut. selain itu juga kita dapat mengetahui atau mengamati langsung gejala serangan yang diakibatkan oleh serangga fitofag.

BAB II

BAHAN DAN METODE

2.1 Bahan

Dalam praktikum kali ini ada beberapa bahan yang digunakan dari larva serangga , yaitu larva Erionota thrax (Lepidoptera: Hesperiidae), larva Crocidolomia pavonana (Lepidoptera: Pyralidae), dan larva Helicoverpa armigera (Lepidoptera: Noctuidae). Sedangkan bahan makanan untuk larva-larva tersebut adalah daun pisang (Musasea), daun kangkung (Ipomoeaceae), daun talas (Colocaceae) untuk larva Erionota thrax. Inang pada larva Crocidolomia pavonana adalah daun talas (Colocaceae), daun caisin dan daun brokoli (Cruciferae). Inang pada larva Helicoverpa armigera dalam percobaan ini adalah tongkol jagung semi atau baby corn (Poaceae), buah tomat (Solanaceae) dan buncis (Fabaceae).

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu kertas alas, kertas label, cawan petri (7 buah cawan petri) atau wadah plastik (2 wadah plastik), kuas kecil dan gunting.

2.2 Metode

Metode yang pertama kali dilakukan dalam percobaan ini adalah penyiapan wadah untuk perlakuan inang. Inang berupa daun digunakan cawan petri, sedangkan inang jagung dan buah tomat digunakan wadah plastik. Tiap grup praktikan mendapat 9 wadah ( 7 cawan petri dan 2 wadah plastik). Kertas alas digunting sesuai dengan ukuran dasar wadah dan diletakkan di dasar wadah sebagai alas. Kertas alas tersebut dilembabkan dengan cara meneteskan air namun tidak sampai terlalu basah.

Daun-daun untuk percobaan disiapkan dengan ukuran masing-masing 5 cm x 5 cm, sedangkan untuk jagung panjangnya 3 cm, untuk tomat dan kedelai satu buah. Daun-daun, tongkol jagung, buah tomat atau kedelai tersebut diletakkan di dalam wadah. Satu wadah di isi dengan satu daun atau polong atau buah.

Satu larva masing-masing dimasukkan ke dalam wadah. Larva tersebut telah dipuasakan terlebih dahulu selama 24 jam. larva diletakkan di tengah-tengah wadah, dengan hati-hati dan menggunakan kuas kecil. Setiap wadah dengan masing-masing perlakuan diberi label. Pengamatan dalam percobaan ini dilakukan setelah 24 jam. Pengamatan yang diamati meliputi apakah daun dimakan atau tidak, jumlah luasan daun atau bagian inang yang dimakan untuk setiap perlakuan ( dalam persen). Setelah percobaan selesai, pakan serangga percobaan dibuang ke tempat pembuangan sampah dan peralatan lab dicuci dan dikeringkan.

BAB III

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Hasil Pengamatan Kelas

Serangga Pakan Dimakan/Tidak Dimakan Luas/ Volume Pakan yang dikonsumsi (%)
Erionata thrax Daun Pisang

Daun Talas

Daun Kangkung

Dimakan

Dimakan

Dimakan

67,6

11,4

16,6

Crocidolomia pavonana Daun Kubis

Daun Caisin

Daun talas

Dimakan

Dimakan

Tidak Dimakan

10,2

30,1

0,4

Helicoverpa armigera Baby corn

Buncis

Tomat

Dimakan

Dimakan

Dimakan

48,2

31,5

4,4

Gambar Literatur

Erionota thrax bekas gulungan Erionota thrax

imago Erionota thrax (Bananas Skipper)

Sumber: www.sith.itb.ac.id/publikasi-ia/Parasitoids-Erionota

Helicoverpa armigera                     Crocidolomia binotalis

Sumber: (Perkebunan. litbang.deptan.go.id)     sumber :( www.infonet-biovision.org)

3.2 Pembahasan

Kisaran tumbuhan inang merupakan ragam jenis tumbuhan inang dari suatu spesies serangga fitofag. Serangga memakan tanaman ( inang ) menurut tipe makannya yaitu berh ubungan dengan tipe alat mulutnya. Pada percobaan ini, tipe alat mulut dari ketiga larva tersebut ialah menggigit-mengunyah. Serangga dalam hal ini hama, mempunyai inang primer dan inang sekunder. Inang primer merupakan inang pokok atau inang utama dari hama tersebut, sedangkan inang sekunder adalah inang yang dapat dimakan oleh serangga ketika inang primer tidak ada. Dilihat dari kisaran inang, hama atau serangga fitofag dibedakan menjadi tiga macam yaitu monofag, oligofag dan fitofag.

Adapun pengertian dari serangga monofag adalah serangga yang memakan satu atau beberapa spesies tanaman dari famili tertentu. Jika dilihat dari pengetiannya, berarti serangga monofag ini tidak terdapat inang sekunder. Pada serangga oligofag mempunyai inang primer dan inang sekunder yaitu tanaman yang satu famili dengan inang primer. Hal ini terjadi karena serangga oligofag merupakan serangga yang dapat memakan beberapa jenis tanaman dari satu famili. Serangga polifag adalah serangga yang memakan banyak spesies tumbuhan dari berbagai famili. Dalam hal ini berarti serangga polifag dapat memakan semua jenis tanaman termasuk dari famili yang berbeda.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan (data diatas) dapat dilihat bahwa Erionota thrax memiliki kecenderungan memakan inang lebih besar pada daun pisang sebesar 67,6% dibanding dengan inang lain yaitu daun talas (11,4 %) dan kankung ( 16,6 %). Dari persenan pakan yang dimakan oleh Erionota thrax dapat diketahui bahwa Erionota thrax termasuk serangga monofag. Hal ini di duga karena besarnya persentase yang dikonsumsi pada daun pisang. Jika dibandingkan dengan daun talas dan daun kangkung, persentase yang dikonsumsi dari kedua daun tersebut tidak jauh berbeda. Serangga ini merupakan hama penting pada tanaman pisang. Hal ini dapat diketahui bahwa inang primer Erionota thrax dalam percobaan ini adalah daun pisang (Musasea), sedangkan inang lain yang diserang adalah daun talas dan daun kangkung dari famili yang berbeda ( Colocaceae dan Ipomoeaceae ) yang persentase konsumsinya sangat jauh berbeda dari famili Musaseae.

Pada larva Crocidolomia pavonana, persentase pakan terbesar yang dikonsumsi ialah daun caisin 30,1 %( Cruciferae ) yang merupakan inang primernya, sedangkan inang sekundernya yaitu daun kubis 10,2 % (Cruciferae) dan daun kangkung 0,4 % (Ipomoeaceae). Pada daun kangkung terlihat sangat sedikit yang dimakan. Dari data tersebut dapat digolongkan bahwa Crocidolomia pavonana merupakan serangga oligofag, karena memakan beberapa tanaman dari famili yang sama.

Pada larva Helicoverpa armigera, mengkonsumsi tongkol jagung semi atau baby corn sebesar 48,2 % ,sedangkan polong buncis sebesar 31,5 % dan buah tomat sebesar 4,4 %. Dari data tersebut diketahui bahwa inang primer dari serangga tersebut adalah baby corn atau tongkol jagung semi ( Poaceae ) sedangkan inang sekundernya ialah polong buncis ( Fabaceae ) dan buah tomat (Solanaceae). Helicoverpa armigera ini  sering disebut sebagai penggerek tanaman jagung (tongkol jagung ). Selain tanaman jagung, serangga ini juga mempunyai inang sekunder lain selain yang dicobakan dalam praktikum seperti tanaman kedelai, kapas, tembakau, sorgum, dan lainnya. Dari hal tersebut, serangga ini digolongkan sebagai serangga polifag, karena serangga ini dapat mengkonsumsi banyak jenis tanaman dari berbagai famili.

Dalam percobaan kali ini jika dilihat dari tabel pengamatan, mungkin ada data yang kurang sesuai dari persentase pakan yang dikonsumsi serangga semestinya. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya ketidaktelitian dalam memotong daun sehingga tidak diketahui adanya robekan, lubang atau kerusakan pada daun di awal pemberian pakan pada serangga, sehingga pada akhir pengamatan didapat daun yang sudah terkikis atau robek seolah-olah serangga yang memakan daun tersebut.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dalam praktikum kali ini telah dilakukan percobaan kisaran inang pada serangga. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Erionota thrax merupakan serangga monofag yang inang utamanya adalah tanaman pisang dari famili Musaseae. Pada Crocidolomia pavonana, serangga ini termasuk serangga oligofag dengan kisaran inangnya ialah yang satu famili dengan kubis, yaitu dari famili Cruciferae. Serangga Helicoverpa armigera sangat berbeda dengan serangga Erionota thrax atau pun serangga Crocidolomia pavonana dari segi kisaran inangnya. Serangga Helicoverpa armigera ini memiliki kisaran inang yang luas sehingga  serangga ini digolongankan kedalam serangga polifag.

DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, B. Pikukuh dkk.2002. Serangan Ulat Penggerek Tongkol Helicoverpa Armigera pada Beberapa Galur Jagung. www.scribd.com [9 April 2010]

(Anonim, 2009). Pisang. www.situshijau.co.id [9 April 2010]

( Anonim, 2009 ).www.perkebunan.litbang.deptan.go.id [ 9 April 2010 ]

( Anonim, 2009 ). www.sith.itb.ac.id/publikasi-ia/Parasitoids-Erionota [ 9 April 2010 ]

( Anonim, 2009 ). www.infonet-biovision.org [9 April 2010]

LAMPIRAN

Tabel banyak pakan yang dimakan dalam persen (%)

Serangga Pakan Kelompok
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Erionata thrax Daun Pisang

Daun Talas

Daun Kangkung

90

10

10

100

3

30

100

10

30

100

0

15

90

80

40

100

4

8

91

0

1

40

0

12

100

2

20

65

5

0

Crocidolomia pavonana Daun Kubis

Daun Caisin

Daun talas

5

15

0

25

10

1

20

33

0

10

35

0

0

0

0

0

42

0

3

30

0

15

70

3

15

70

3

22

0

0

Helicoverpa armigera Baby corn

Buncis

Tomat

20

0

0

1

1

70

25

13

0

60

40

5

100

50

0

56

0

6

70

95

5

70

95

5

10

10

5

60

12

17